E-KTP dan Budaya Teknologi Informasi

Tulisan ini sudah saya tulis beberapa tahun yang lalu, tetapi tampaknya masih cukup relevan pada saat ini, karena Pemerintah menargetkan pada tahun 2011 ini, penerapan Kartu Tanda Penduduk (KTP) secara elektronik yang disebut e-KTP selesai diimplementasikan. Bukan hanya untuk KTP, pengadaan barang dan jasa (lelang/tender) di instansi pemerintah mulai tahun 2012 wajib menggunakan cara elektronik yang disebut “Layanan Pengadaan Secara Elektronik” (LPSE). E-KTP dan LPSE intinya adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Banyak daerah yang seperti “menjerit ketakutan” bila menyebut penerapan TI, seperti melihat hantu di siang bolong. Khusus di Provinsi Riau, baru Pemerintah Povinsi dan Pemerintah Kota Pekanbaru yang telah menerapkan LPSE dalam pengadaan barang dan jasa. Mengapa begitu sulit dan “menakutkan” penerapan TI? Penulis berpandangan ada persoalan “budaya” dalam implementasi TI, terutama “budaya teknologi”.  Tulisan dibawah ini saya tulis tahun 2008 lalu, dimana e-KTP yang disebut-sebut sekarang ini masih bernama “KTP SIAK”. Walaupun sudah berlalu beberapa tahun, menurut hemat penulis, tantangan dan hambatan dalam penerapan Teknologi Informasi di instansi pemerintah yang diberi “label” e-KTP dan “LPSE” yang muaranya nanti adalah implementasi e-Goverment, masih sama. Karena itu tulisan dibawah ini tidak saya rubah “setting” waktu dan tempatnya. Mudah-mudah dapat sedikit menambah sudut pandang dalam penerapan TI. Inilah tulisan asli saya tersebut.

Pada saat ini di Indonesia, sedang hangat-hangatnya penerapan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang berbasis Teknologi Informasi (TI).  Perangkat lunak (software) yang digunakan untuk administrasi kependudukan ini dinamakan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK), sehingga KTP yang menggunakan sistem ini pun terkenal dengan nama KTP SIAK. Niatnya, dengan penggunaan sistem SIAK ini, KTP dapat berlaku secara nasional, sehingga tidak ada lagi orang Indonesia yang memiliki KTP ganda. Istilah kerennya, mulai menerapkan Single Identity Number (Nomor Identitas Tunggal).  Penggunaan nama SIAK ini tampaknya tidak ada hubungannya dengan nama sebuah Kerajaan Melayu tempo doeloe yang diabadikan menjadi nama Kabupaten atau nama sungai di Provinsi Riau (Siak).  Lalu apa yang istimewa dari KTP SIAK ini?  Kalau dari segi bentuk, bedanya dengan KTP jenis lama (berwarna kuning, sehingga terkenal dengan sebutan KTP Kuning), hanya lah ukuran yang lebih kecil, seukuran kartu ATM atau kartu kredit, dan tentu saja hasil print-out komputer, tidak lagi menggunakan mesin ketik manual atau mesin ketik elektrik.  Dari segi fungsi, masih sama saja seperti KTP Kuning, tidak ada penambahan fungsi. Misalnya KTP SIAK ini bisa sekalian menjadi Kartu Jaminan Sosial, kartu pajak, dan kartu yg bisa digunakan untuk pembayaran dan ambil uang di mesin ATM, seperti yang berlaku di negara tetangga. Jadi, sebenarnya tidak ada yang istimewa dari segi fungsi. Justru yang terkenal dari KTP SIAK ini adalah: KTP SIAK proses pembuatannya memakan waktu 3-6 bulan! Banyak masyarakat yang kecewa dengan KTP SIAK karena urusannya terlantar gara-gara KTP yang lambat proses pembuatannya.

 

 

About ibnu-rusdi
Name: Ibnu Rusdi Birthday: 23-11-1970 Sex: Male Education: Master Degree Job: Teacher, Bussiness

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: